November 06, 2015

Kartini-nya Pram (2)

Tulisan ini merupakan sambungan dari Kartini-nya Pram (1).


Setelah memahami bahwa Kartini-nya Pram hidup di zaman feodalisme dan mulai memasuki era kapitalis awal, di satu sisi mulai bermunculan aliran sosialis-demokrasi di negara Belanda yang mulai menyuarakan keberatannya dengan politik kolonial yang menjadikan negara jajahannya hanya sebagai sapi untuk diperah habis-habisan. Maka berkembanglah apa yang kemudian dirumuskan sebagai politik etis, bahwa pemerintah Belanda memiliki panggilan moral untuk berbuat sesuatu bagi penduduk Indonesia, ya semacam hutang budi, yang dirumuskan ke dalam tiga kebijakan, yaitu irigasi, transmigrasi dan edukasi. Pada bagian edukasi inilah Kartini-nya Pram kemudian memaksimalkan tanah dan pacul nya.

Tidaklah mengherankan bila Kartini-nya Pram berfokus pada tanah dan pacul dalam wujud yang lain, yaitu edukasi. Bukan berarti Kartini tidak menyadari kekayaan alam bangsanya sendiri melainkan ia mengambil jalan yang dapat ditempuhnya ditengah keterbatasannya. Garis keturunan Kartini dari pihak ayah memang banyak menelurkan tokoh-tokoh yang menjadi pemula bagi perjuangan bangsa Indonesia melalui tulisan dalam bahasa Belanda. Hal tersebut bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan leluhur Kartini sudah meramalkan betapa pentingnya pendidikan bagi keturunannya. Kakek Kartini menyediakan jalur bagi putra-putranya untuk mencicipi pendidikan terutama untuk menguasai bahasa Belanda (karena pada zaman itu, sebagian besar ilmu pengetahuan bersumber dari buku-buku bahasa Belanda) meski kaum bangsawan lainnya mencela tindakan kakek Kartini tersebut. Alhasil membaca dan menulis bagi Kartini, bila meminjam sebait puisi Dalam Diriku karya Sapardi Djoko Damono, adalah bagaikan gelombang sukma yang meriak yang mewujud sebagai kehidupan. Seperti Kartini menuliskan dalam suratnya,

““barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang”, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia. “ (hal 181).

Didukung dengan intelegensi yang baik dan kemampuan mengamati dan menganalisis dari kehidupan di sekelilingnya maka Kartini-nya Pram ini sudah menghasilkan pemikiran yang sangat melampaui zamannya. Kartini mengetahui bahwa sistem feodal bangsanya hanya akan menambah keterpurukan rakyat, hanya mematuhi dan menjalankan perintah, takut dengan hal-hal yang baru sehingga lebih memilih untuk tetap berada di kondisi status quo meski sengsara menjalaninya. Di satu sisi, Kartini juga menghayati penderitaan rakyatnya yang ditindas, diperlakukan semena-mena oleh Belanda. Kartini sudah mulai melakukan integrasi antara dunia Pribumi yang dikenalnya melalui lingkungan dengan dunia Barat yang dikenalnya melalui bacaan dan surat-menyurat. Ia mengambil apa yang baik dari kedua belah dunia tersebut dan menyatukannya untuk kemajuan bangsanya sendiri.

Baiklah, mari kita sekarang hidupkan sosok Kartini-nya Pram dalam benak kita. Kartini memiliki semangat yang menggelora, keberanian untuk berbuat sesuatu, kemampuan berpikir yang tajam dan analitis, kesedihan terhadap kondisi rakyatnya dan cinta kasih yang menjadikan dirinya yakin bahwa rakyatnya suatu saat akan bangkit dan menjadi bangsa yang hebat. Bila Kartini hidup di zaman sekarang mungkin bisa kita sejajarkan dengan Sri Mulyani atau Susi Pudjiastuti. Coba lihat kedua perempuan tersebut, mereka berkiprah sesuai dengan kompetensinya demi kemajuan bangsa baik di nasional maupun internasional. Mereka mampu menunjukkan bukti bahwa bangsa Indonesia mampu serta memiliki kedaulatan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang potensial, bangsa yang mampu dan bisa menjadi kuat bila manusianya mengusahakan tanah dan paculnya dengan maksimal. Kartini? Ah, betapa malangnya Kartini... Ah Kartini, andaikan kau hidup pada zaman sekarang, betapa banyak hal yang bisa kau perbuat!

Kartini dengan segala potensi yang meruak dalam sukmanya tidak dapat bergerak dengan bebas. Dalam usia 12 tahun ia sudah dipingit, disekap dalam 4 sudut tembok yang menyesakkan jiwa mulianya. Coba bayangkan, selama 4 tahun tidak boleh keluar lebih jauh dari kompleks perumahannya. Tidak ada televisi, radio, atau internet, tidak ada hubungan dengan dunia luar sama sekali. Bagaimana seseorang tidak menjadi depresi dengan ‘penyekapan’ semacam itu? Bagaimana pelita seseorang tidak akan redup dalam kondisi demikian? Bahkan Kartini menuangkan rasa itu dalam suratnya kepada sahabat pena,

“O, maut! Mengapa kau begitu ditakuti, kau, yang dapat bebaskan manusia dari kehidupan kejam ini. Ni akan merasa sangat berterimakasih dan dengan girang menerimanya.” (hal 73).

Memang ada beberapa waktu dimana Kartini merasakan kesedihan yang mendalam akan situasinya, bahkan ia jatuh sakit. Namun adanya suatu harapan yang dibangunnya, harapan bahwa ia dapat menjadi berbeda dibandingkan dengan perempuan-perempuan lainnya di zaman itu. Ayah! Iya, ayah adalah harapannya!

“Tapi tidaklah benar bahwa hidup ini sama sekali muram tanpa warna. Ada dua orang yang mencintainya, sebagaimana ia mencintai mereka, dengan cinta yang hangat dan mesra... Mereka itu adalah ayah dan abangnya yang ketiga, abangnya yang paling muda. Memang mereka tak dapat mengisi hasratnya yang paling mesra: menjadi bebas!... Ayah itu mencintainya, ini ia tahu, ini ia rasai.” (hal 71)

Disinilah penulis mulai merasakan kekompleksan batin seorang Kartini. Ia sangat mencintai ayahnya, dan juga abangnya yang satu ibu. Dari mereka berdualah Kartini merasakan suatu cinta kasih yang tulus. Tetapi ayah, yang kemudian mewakili suatu sistem yang sangat dibencinya, juga menjadi sumber ketersiksaan batin Kartini. Anak perempuan adalah milik ayah. Kartini yang bahagia menjadi milik ayah karena cinta ayah yang sungguh ia rasakan, tetapi juga Kartini yang tersiksa menjadi milik ayah karena kebebasan yang terenggut daripadanya. Ah Kartini, betapa kuatnya batinmu menghadapi itu semua! Seringkali ketika penulis mendapati pertentangan batin Kartini seperti ini, penulis seakan ingin berkata sudah Kartini bebaskanlah dirimu, tentanglah ayahmu, kejarlah impianmu, tinggalkan saja ayahmu. Hal tersebut menggambarkan betapa jelasnya sikap yang akan penulis ambil bila berada di posisi Kartini. Tapi penulis bukanlah Kartini, penulis dapat dengan mudah mengambil sikap untuk membebaskan diri karena zaman dan sejarah hidup penulis yang berbeda dari Kartini. Kartini? Ia terus berada di persimpangan jalan itu,

“Maka bermohonlah ia pada Ayahnya untuk dibolehkan dengan abang-abangnya pergi ke Semarang belajar di HBS, ia berjanji akan belajar sebaik-baiknya; orangtuanya takkan kecewa atas dirinya. Ia pun berlututlah di hadapan ayahnya;... Dengan kasih-sayangnya ia belai-belai rambut hitam putrinya;... dan dengan suara lembut tapi menentukan terdengar jawaban dari mulutnya: “Tidak boleh!”.” (hal 68)


“Pendeknya harapanku besarlah mendapat izin dari Ayah. Mestikah aku masih harus katakan, bahwa “aku mau”? Kau tahu sendiri, bahwa memainkan pena selalu menarik hatiku” (hal 210)

“Sementara itu banyak yang telah terjadi, tak sempat aku kerahkan penaku, dan sesudah itu aku menjadi begitu bimbang tentang izin Ayah, yang sekarang boleh, besok, tidak, sehingga aku robek-robek tulisanku.” (hal 215)

Begitu seringnya ia dikecewakan oleh ayahnya, oleh sistem yang dibencinya namun ayahnya sendiri yang begitu dicintainya memegang teguh sistem tersebut. Konflik tersebut tidak menjadi lebih mudah karena cinta sepihak Kartini pada ayahnya saja, tetapi ayah Kartini juga menyambut cintanya dan memahami hasrat terdalam Kartini. Ayah Kartini juga terjebak dalam pertentangan antara suatu sistem dimana ia dibesarkan dan menjadi panutan dalam sistem tersebut dengan pemahaman yang mendalam tentang suatu zaman yang baru, zaman pendidikan, zaman kebebasan yang terwujud dalam sosok putri yang dicintainya itu.

“Oh! Betapa menggelegaknya kegembiraan ini, waktu aku dapatkan kepastian yang nikmat itu; mengetahui, bahwa Ayah, Ayah pujaan yang aku cintai itu, dengan tanpa dukacita membenarkan gagasan-gagasanku, cita-cita dan keinginanku.” (hal 64)
“Betapa baiknya hatimu, kekasih, Ayah tercinta, betapa cintanya kau kepada kami! Bagimu tiadalah yang terlalu banyak untuk menerbitkan seri-ria pada wajah putri-putrimu! Kau telah putuskan hubungan dengan banyak hal yang terbiasa bagimu, karena kau tahu, dengan itu kau dapat bahagiakan kami. Kau telah putuskan hubungan tradisi berabad, yang memerintahkan gadis-gadis tetap terkurung di rumah, tercerai sama sekali dari dunia luar. Ayah, betapa bahagianya kami kau buat!” (hal 219)

Hal tersebut membuat Kartini semakin besar mencintai ayahnya namun sekaligus tanpa sadar mungkin membenci ketidaktegasan ayahnya dalam mengambil sikap. Pada akhirnya, Kartini pun mengulangi pola perilaku yang serupa dengan ayahnya, memijakkan kaki pada dua perahu yang mengarah pada jalur yang berbeda. Namun pada persimpangan jalan tersebut, seringkali Kartini memilih cinta ayahnya dibandingkan cita-citanya. Bila ditinjau dari aliran psikoanalisis, ego Kartini lebih mendengarkan super ego dibandingkan id nya. Untuk itu saja, sungguhlah tepat lirik lagu Ibu Kita Kartini karya W.R Supratman, Ibu Kita Kartini, Putri Sejati. Kartini benar-benar menjalankan perannya sebagai seorang putri, kepunyaan ayahnya, yang tujuan sejatinya adalah membahagiakan ayahnya,

“Aku mencintai kebebasanku, o, dialah segala-galanya yang kumiliki,... Namun lebih baik daripada semua itu seluruhnya ialah Ayahku. Stella, katakanlah aku pengecut, goyah, tapi aku tak dapat berbuat lain; kalau Ayah melarang aku berusaha buat itu, betapapun meraung dan merintih hatiku, aku akan terima larangan itu dengan tawakal! Keberanianku tidaklah cukup, untuk makin melukai, dan makin mendarahkan hatinya, hati yang setia itu, yang begitu menyayangi daku. Hatinya itu sudahlah cukup mendarah karena aku, sekalipun sebenarnya aku tiada berdosa sama sekali.” (hal 57)

Penulis yang hidup di zaman sekarang, tumbuh besar dalam keluarga dengan ruang diskusi yang dibuka lebar serta kebebasan menentukan sikap bagi dirinya sendiri masih sulit untuk bisa memahami Kartini seutuhnya. Kartini yang begitu membenci sistem feodal, namun mencintai ayahnya dan menerima diri sepenuhnya sebagai milik ayahnya seorang,

“Aku akan sangat berdukacita sekiranya Ayah menentang cita-cita kebebasanku, tapi akan lebih bersedih hati lagi, pabila hasrat paling menyala itu terpenuhi, tapi dalam pada itu kehilangan cinta Ayahku. Ah tidak, aku tak akan kehilangan cintanya, tapi aku dapat menyebabkan hatinya luka.” (hal 57).

Bila melihat surat yang ditulis Kartini, cinta ayahnya diberikan secara tulus dan tanpa pamrih. Dengan kata lain, dapat ditarik sedikit kesimpulan bahwa Kartini mendapatkan unconditional positive regard menurut aliran Rogerian. Ia mungkin yang menciptakan conditional positive self regard untuk dirinya sendiri, untuk selalu membahagiakan ayahnya dan tak ingin medukakan hati ayahnya. Menjadi semakin sulit ketika beranjak dewasa dengan bacaan-bacaan yang membangkitkan gelora dan membentuk suatu idealisme dalam diri Kartini. Maka dapat dilihat betapa kompleksnya pertentangan batin yang dirasakan Kartini, persimpangan jalan antara cinta dan cita. Yang pada masa sekarang jelas akan memunculkan permasalahan-permasalahan psikologis bagi siapapun yang mengalaminya. Ah Kartini, betapa hebatnya dirimu!

Yang mengusik penulis adalah bagaimana Kartini bisa menjadi penyintas (survivor) di tengah perperangan batin yang sungguh tidak mudah itu. Data yang pertama muncul adalah Kartini belajar untuk menerima hal yang terjadi dalam hidupnya. Ia mendapatkan lesson learned tersebut bukan dari buku ataupun diajarkan oleh guru atau ayahnya, melainkan dari kemampuannya mengamati dan menarik makna dari peristiwa. Ia mengamati proses Ibunya merawat adik kecilnya yang baru lahir. Ia belajar mengerti sepenuhnya arti menjadi seorang ibu. Dari pengalaman tersebut ia menyadari kekurangan dirinya sendiri, yaitu terlalu terfokus pada dirinya sendiri, kemarahan dan kepedihannya saja tanpa berpikir bahwa orang lain mungkin juga menderita dengan kepedihan mereka,

“Si adik kecil mengajarkan padanya untuk merenung, memandang secara bersegi ganda, mengajarinya mengalah, berterimakasih dan memberi tanpa meminta kembali.” (hal 75)

Hal tersebut kemudian menjadi awal bagi Kartini untuk dapat move on dari persimpangan jalan tersebut, meski sepanjang hidupnya persimpangan antara cinta dan cita tidaklah pernah selesai dihadapinya,

“Kewajibanku sebagai anak tidak boleh akur kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah, bahwa untuk sementara ini aku membaktikan diri kepada ayahku...” (hal 59)

Sampai di sini kekaguman penulis terhadap Kartini-nya Pram menjadi semakin bertambah, utamanya adalah ia menghadapi kesemuanya itu bahkan sebelum dirinya menginjak dewasa! Belum lagilah Kartini berusia 21 tahun ketika dirinya mengalami kekompleksan batin seorang manusia, namun dirinya belajar terus menerus dari semua proses yang diberikan oleh kehidupan hingga mencapai titik seimbang, seberapapun singkatnya keseimbangan tersebut dirasakan olehnya,

“Karena itu jangan disusahkan, sayangku, kalau jawaban surat permohonan bakalnya tidak menyenangkan, karena bagaimanapun hidupku tiadalah akan sia-sia; masih ada hal-hal indah bisa diperbuat olehku –aku mau-aku menghendakinya! Barangsiapa mengabdi pada Kebajikan, hidupnya tiadalah sia-sia –dan barangsiapa mencari Kebajikan, dia menemukan Kebahagiaan sejati: kedamaian jiwa.” (hal 278)

Wahai Ibu Kita Kartini, putri yang mulia! Memahami Kartini-nya Pram dengan kekompleksan batinnya membuat penulis menyadari kehebatan seorang Kartini. Belum lagi berbagai pemikiran-pemikirannya yang dirangkum oleh Pram menjadi demikian,

“Bekerjanya pengaruh Barat dalam kehidupan Pribumi waktu itu sangat lambat dan tiada dirasakan orang, baik pengaruh itu diakibatkan oleh ketatapemerintahan maupun hubungan perseorangan. Namun Kartini dapat melihat jelas, mana yang khas Pribumi mana pula yang Barat. Lebih mengherankan adanya wawasannya tentang moral feodal, Rakyat, dan bangsa Barat, dan malah ia bisa menerangkan wawasannya ini dengan kata-kata yang jelas dapat dipahami siapapun yang membaca tulisannya. Sekiranya tulisan-tulisannya dibuat oleh seorang gadis dari tahun enampuluhan, berumur duapuluhan dan cuma lulusan sekolah rendah, itu pun masih dapat dirasai kehebatannya.” (hal 288).


Membaca buku Panggil Aku Kartini Saja membuat penulis memahami kehebatan seorang Kartini. Dengan batin yang selalu di persimpangan antara cinta dan cita, tetapi tetap dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang tajam dan visioner merupakan wujud nyata prestasi seorang perempuan muda yang hidup dengan keterbatasan pada zamannya. Bila di tulisan sebelumnya, penulis hanya secara sepintas mengakui bahwa Kartini adalah pribadi yang mengaktualisasikan dirinya, maka tulisan sekarang ini melengkapi pemahaman penulis tentang proses aktualisasi diri Kartini. 

Kartini-nya Pram (1)


Siapa yang tidak kenal Kartini? Sosok yang setiap tanggal 21 April kita rayakan kelahirannya, bahkan tulisan tentang perayaan Hari Kartini pun telah penulis uraikan dalam blog ini. Kartini yang kita kenal sebagai seorang putri dari Jepara, seorang pejuang emansipasi perempuan sehingga perempuan-perempuan sekarang ini bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang tertinggi merupakan salah satu jasa Kartini yang terkenal. Pertanyaan penulis berikutnya adalah apalagi jasa Kartini bagi Indonesia yang para pembaca ketahui? Mungkin sebagian besar pembaca akan menjawab tidak tahu. Karena memang tidak bisa dipungkiri yang didengungkan tentang jasa Kartini hanyalah perjuangan untuk menyetarakan kesempatan pendidikan bagi kaum perempuan alias emansipasi. Demikian juga dengan penulis, sejarah tentang Kartini hanya penulis dapatkan di bangku sekolah dari buku pelajaran sejarah, tidak pernah diwajibkan untuk membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan surat-surat pemikiran Kartini. Penulis bahkan ragu apakah buku tersebut menjadi buku wajib yang menghuni koleksi buku di perpustakaan sekolah. Sangat disayangkan memang bahwa kebiasaan membaca tidak terlalu diutamakan di sekolah dasar atau menengah (tentu saja selain membaca buku-buku teks wajib).


Singkat cerita, karena beberapa bulan terakhir penulis sedang jatuh cinta dengan karya Pramoedya Ananta Toer, penulis menemukan buku Panggil Aku Kartini Saja yang merupakan salah satu karya beliau (untungnya toko buku terbesar di Indonesia memutuskan untuk mencetak ulang beberapa karya Pram, karena jujur mencari buku-buku beliau itu sungguh sangat susah). Meski masih banyak utangan buku-buku karya Pram lainnya (yang boleh meminjam dari koleksinya om penulis), penulis memutuskan untuk memprioritaskan buku ini terlebih dahulu. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah penulis ingin memahami konsep kesetaraan atau emansipasi yang dicetuskan oleh Kartini (maklum masih fokus pada isu-isu perempuan :p). Beberapa karya Pram yang penulis pernah baca lebih ke arah roman fiksi (Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Dongeng Calon Arang & Bumi Manusia) serta perjalanan hidup beliau ketika diasingkan di Pulau Buru (Nyanyian Sunyi Seorang Bisu) maka penulis memulai membaca buku Panggil Aku Kartini Saja dengan asumsi karya Pram ini akan tergolongkan ke dalam salah satu dari dua kategori di atas. Dugaan penulis semakin terlihat meleset mulai dari membaca pengantar yang dituliskan oleh Pram, bahwa penyusunan buku ini adalah untuk meletakkan kembali Kartini sebagai sesosok manusia biasa, yang selama ini tanpa disadari semakin sering diperingati Hari Kartini, malah membentuk Kartini menjadi tokoh mitos. Baiklah, penulis memang kurang mencermati sampul buku tersebut, karena ternyata di bagian atas dari sampul jelas tertulis Biografi. Dengan pemahaman yang baru tentang tujuan penulisan buku, dorongan untuk membaca menjadi semakin bertambah, sejarah merupakan salah satu topik kesukaan penulis. Apalagi ditutup dengan keterangan dari Pram bahwa ada baiknya karya ini menjadi salah satu bahan bacaan pelengkap di sekolah terutama untuk sejarah Indonesia. Apa sebenarnya isi buku ini? Mengapa biografi Kartini bisa memperlengkapi pemahaman siswa tentang sejarah Indonesia terutama periode dimulainya politik etik dan awal dari nasionalisme Indonesia?

Salah satu keistimewaan karya Pram adalah kemampuan menyusun pemikiran-pemikirannya secara terstruktur dan sistematis sehingga kita seakan terserap dalam alur berpikir dan logika yang dibentuk oleh Pram. Tidak semua penulis mampu membuat karya tulisnya seperti demikian, terkadang kening kita dibuat berkerut ketika membaca suatu bagian karena mempertanyakan kenapa sang penulis tiba-tiba membahas hal ini atau bagaimana bisa sampai pada pembahasan ini. Sejauh membaca karya Pram, penulis melihat bahwa Pram sangat memikirkan dengan matang bab-bab yang ditulisnya untuk mengarahkan pembaca pada suatu proses pembentukan kesimpulan. Hal tersebut tidak banyak dijumpai pada karya-karya penulis lainnya. Kalaupun ada, beberapa penulis terkadang terkesan bertele-tele dalam membangun dasar pemikirannya sehingga perbandingan antara dasar dengan kesimpulan justru menjadi tidak seimbang. Contohnya adalah tulisan yang dibuat penulis ini.. hehehehehehehe

Baiklah, mari kita mulai membahas Kartini versi Pram. Kesan pertama yang penulis tangkap dari Kartini-nya Pram adalah betapa dalam usaha Pram dalam memahami sosok Kartini. Sesuai dengan aliran keilmuan penulis yaitu psikologi, memahami kekompleksan seorang manusia tidak bisa terlepas dari konteks dimana ia berada. Itulah yang dibangun oleh Pram. Pembaca diajak memahami zaman ketika Kartini sedang bertumbuh dan mentas. Suatu zaman yang kita mungkin tidak pernah rasakan dan alami secara langsung, zaman feodalisme. Zaman dimana Indonesia dijajah bangsa asing lewat kolonialismenya dan zaman dimana rakyat Indonesia menjajah rakyatnya sendiri dengan konsep bangsawan-priyayi-rakyat jelata. Zaman dimana rakyat pada umumnya harus tunduk kepada keturunan raja-raja Jawa, baik dari pemikiran dan lebih terutama lagi melalui perilaku. Menghatur sembah dan hormat lewat perilaku menyembah, tidak ada diskusi melainkan hanya titah dan wangsit dari leluhur, sopan santun yang tertuang melalui aturan-aturan berlapis dalam masyarakat. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa zaman Kartini adalah zaman tengah, zaman dimana sejarah Indonesia turut terbentuk oleh sejarah-sejarah di belahan negara lain. Negara-negara Eropa sudah terlebih dahulu meninggalkan era feodalisme terutama dengan runtuhnya beberapa kerajaan-kerajaan melalui revolusi Prancis dan Rusia. Mereka sedang bergerak menuju zaman baru, yaitu zaman dimana poros utamanya ada pada industri, suatu zaman kapitalisme.
 
Situasi lainnya yang tak kalah pelik adalah Belanda mengalami kerugian besar-besaran karena perang dan perusahaan perdagangan VOC dinyatakan pailit sebagai salah satu pemasok devisa bagi Belanda. Alhasil Nusantara kita ini diambil alih oleh pemerintah Belanda dan dibentuklah suatu kepemerintahan yang menandakan secara sah bahwa kita adalah daerah koloni kepemilikan Belanda yaitu Hindia-Belanda. Dampak nyatanya bagi penduduk Indonesia adalah sistem tanam paksa alias culturalstelsel yang memaksa penduduk untuk menanam komoditi utama yang menghasilkan devisa untuk Belanda. Tidak cukup puas memaksa bangsa Indonesia untuk membayar hutang-hutang Belanda, mereka menjadi serakah dengan ingin terus mengisi pundi-pundi kekayaan negara meski hutang telah lunas terbayarkan. Semuanya diperoleh melalui pacul dan keringat bangsa kita. Betapa menyedihkannya. Sebagaimana diuraikan oleh Pram berikut ini,

"Demam kapitalisme itu tidak memberi berkah pada Rakyat Indonesia. Kemiskinan baru telah diciptakan oleh kapitalisme modern ini: kemiskinan tanpa pacul, tanpa tanah. Keuntungan para kapitalis tak dapat dikira-kirakan lagi." (hal 38)

Marilah kita sebentar meninggalkan zaman dimana Kartini hidup dan melongok ke zaman dimana kita hidup sekarang. Sudahkah terjadi perubahan setelah lebih dari 2 abad berlalu antara masa Kartini dengan masa kita hidup? Masyarakat kita masihkah miskin tanpa pacul, tanpa tanah? Tidak bisa dipungkiri bahwa di sebagian besar wilayah Indonesia, banyak kepulauan kita yang dimiliki secara pribadi oleh warga negara lain. Baiklah, kita dapat katakan kita miskin tanpa tanah. Tanah beserta sumber daya alamnya secara harafiah. Bagaimana dengan pacul kita? Alat yang kita pergunakan untuk kesejahteraan kita? Baiklah, memang kita masih tertinggal di bidang teknologi dan pengetahuan. Alat beserta proses penciptaan alatnya secara harafiah. Jadi kita tidak terlepas dari kemiskinan selama 2 abad lebih?

"Hindia-Belanda merupakan negeri jajahan besar yang ikut menentukan perekonomian dunia dengan hasil buminya. Tetapi rakyat tetap miskin, pertanian tambah miskin, menjadi petani tanpa tanah, menjadi kuli akhirnya menjadi kuli kontrak." (hal 39)

Demikian penuturan Pram tentang kemiskinan kita selama 2 abad. Apa penyebab kemiskinan tersebut? Bila mencermati kata-kata (yang tentu saja mengambarkan suatu perspektif) Pram, Hindia-Belanda menentukan perekonomian dunia dengan hasil bumi. Masyarakat kita sekarang ini masih disibukkan dengan konsep pemikiran kekayaan warisan kolonial. Bahwa Indonesia kaya karena hasil buminya saja. Itu Hindia-Belanda bung! Hindia-Belanda 2 abad yang lalu! Indonesia yang berumur 75 tahun ini memiliki kekayaan dalam bentuk lain, pacul dan tanah dalam simbolisme lain. Mengutip kata Anies Baswedan, pemikiran bahwa kekayaan Indonesia hanya bersumber pada sumber daya alam itu adalah pola pikir kolonial, kekayaan bangsa Indonesia adalah juga pada sumber daya manusianya. Ya, tanah kita sekarang adalah manusia-manusia Indonesia, pacul kita adalah pendidikan manusianya. Dan Kartini adalah pelopor konsep tanah dan pacul tersebut!



bersambung..

July 26, 2015

Jenis kelaminku perempuan, lalu apa?


Namaku Olivia Hadiwirawan. Usiaku dalam 3 bulan ke depan akan menginjak 31 tahun. Jenis kelaminku perempuan. Sukuku adalah Cina. Pendidikanku adalah magister profesi Psikologi sehingga aku mendapatkan gelar sebagai psikolog. Pekerjaanku adalah menjadi dosen Psikologi di sebuah Universitas Kristen yang terletak di Jakarta Barat. Agamaku adalah Kristen Protestan. Itulah identitas yang aku miliki yang menggambarkan diriku. Jangan tanyakan pikiranku untuk menggambarkan diriku seperti apa. Pikiranku sangat ruwet sehingga tidak sanggup aku uraikan dalam tulisan ini. Juga dengan jiwaku, jiwaku masih berkelana dalam keingintahuan anak kecil akan alam semesta ini. Cukuplah sekarang aku berkutat dengan identitas yang sudah kujabarkan di atas untuk memperkenalkan para pembaca tulisan ini tentang diriku.


Namaku Olivia Hadiwirawan, Louisa nama baptisku. Aku dibaptis ketika kanak-kanak secara Katolik karena ibuku seorang penganut Katolik. Namun aku memilih untuk menjadi Kristen Protestan dan mengaku percaya sebagai seorang Kristen. Aku berdialog dengan Tuhan Allahku, aku terus bergumul untuk memiliki iman yang tidak tertipu oleh pikiranku dan juga dagingku sendiri. Aku belajar untuk melakukan Ishak (yang sudah kutuangkan dalam tulisanku sebelumnya). Hadiwirawan adalah nama belakang kakekku yang diwariskan kepada ayahku dan kemudian diturunkan kepada anaknya. Olivia adalah nama pemberian kakekku, konon ceritanya dahulu kakekku pengagum berat Olivia Newton John sehingga ia menyematkan nama itu pada cucu perempuan pertamanya, yaitu aku.

Usiaku menjelang 31 tahun, bisa dikatakan sebagai usia yang matang. Yang memang kusadari betul bahwa aku menuju suatu kematangan (beberapa tulisanku juga sudah merefleksikan upaya mematangkan diri ini). Sudah kurasakan berbagai macam perasaan; bahagia, senang, menderita, terluka, penuh impian, sedih, marah, kecewa, takjub, gembira dan seterusnya. Semua kucecap dan kunikmati, tidak mudah memang, namun aku belajar untuk mengijinkan diriku merasakan dan tidak membiarkan diriku tertipu oleh pikiranku sendiri.

Sukuku adalah Cina, walaupun banyak yang tidak mengira aku Cina. Ayah-ibuku masih keturunan Cina, demikian kakek-nenekku dari kedua belah pihak, meski tidak ada dari keluargaku yang menggunakan bahasa Cina, kecuali nenek dari pihak ayah. Mataku memag tidak sipit malah cenderung belo, kulitku juga tidak terlalu putih untuk ukuran seorang Cina. Mungkin karena kakekku dari pihak ayah memiliki darah Belanda sehingga tidak membuatku terlalu Cina, mungkin. Dari aku kecil hingga SMU lingkungan pergaulanku adalah Cina, baru ketika aku berkuliah aku berbaur dengan lingkungan Indonesia (alias beragam suku). Karena tidak banyak yang mengira aku Cina maka aku seringkali dikira suku lain, seperti Batak, Menando atau Betawi. Makanya aku selalu mengaku bahwa aku Indonesia.

Pendidikanku adalah magister profesi Psikologi, yang berarti aku lulusan S2 Psikologi. Dan karena aku mengambil profesi maka aku pun menyandang gelar psikolog. Gelar yang masih ambigu di masyarakat kita, sama seperti bidang Psikologi yang sudah kusukai semenjak aku masih duduk di bangku SMP. Dikiranya Psikologi adalah ilmu yang bisa membaca manusia, bisa mengetahui orang selayaknya paranormal mengetahui masa depan atau jalan nasib manusia. Menjadi psikolog berarti menjadi tukang tes keliling, atau menjadi HRD atau mengurusi orang gila atau anak autis. Dikiranya menjadi psikolog seperti menjadi pemecah masalah orang lain, padahal masalah sendiripun tidak mampu dipecahkannya. Dikiranya bercerita kepada seorang psikolog akan diberikan jalan keluar, diberikan nasehat, diberikan solusi dan menjadi marah dan tertegun ketika hanya diberikan telinga dan hati seakan hal tersebut tidak dibutuhkannya. Psikologi oh psikologi, apalah wujudmu itu?

Pekerjaanku adalah seorang dosen, yang hampir sebagian ketika mendengar hal tersebut tidak memercayainya. Masa dosen gayanya seperti ini, begitu kata mereka. Yang seringkali aku timpali dengan kebingungan, memang dosen gayanya harus seperti apa? Gaya berpakaian dengan menggunakan sneaker yang sangat nyaman untuk telapak kakiku yang datar, bercelana jeans yang kuakali dengan berbagai warna selain biru sehingga tidak terlihat seperti celana jeans, berkaos yang seringkali kututupi dengan cardigan atau syal, apakah ada yang salah dengan menjadi dosen dengan gaya berpakaian yang nyaman untuk dirinya? Kukira pakaianku masih pantas dan cukup sopan dalam konteksku sebagai dosen, tapi entahlah untuk ukuran kesopanan dan kepantasan masyarakat kita. Dosen yang tidak seperti dosen, begitu beberapa mahasiswaku menjulukiku. Tidak jarang mahasiswa senior dibuat tertawa ketika mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas lain salah mengira diriku sebagai mahasiswa. Kuakui memang aku bukan dosen yang menjaga image, bahkan aku mungkin tidak menciptakan image sebagai dosen. Aku suka bercanda, mengejek, mengerjai dan menggila bersama mahasiswa-mahasiswaku. Aku suka bertukar pikiran, berdiskusi dan bercerita dengan mahasiswaku. Ketika aku bosan kukatakan kepada mereka bahwa aku bosan, ketika aku lupa kukatakan kepada mereka aku lupa, demikian ketika aku tidak tahu ataupun ketika aku melakukan kesalahan. Pembawaanku memang cenderung santai, tak jarang aku mendapatkan ledekan ataupun gurauan dari mereka. Entah bagaimana ada batasan yang tidak terlihat antara aku dengan mahasiswaku, mereka tidak pernah kelewat batas dalam interaksinya dengan diriku. Mungkin karena aku juga terbuka dan apa adanya dengan mereka sehingga mereka tahu diriku seperti apa, yang mana yang bisa diguraukan dan yang mana yang tidak boleh menjadi bahan gurauan. Bagi mahasiswa baru ataupun mahasiswa yang skripsinya disidangkan oleh diriku, aku dianggap sebagai dosen killer. Aku juga tidak habis pikir, mungkin karena memang standart yang kutetapkan cukup tinggi, mungkin. Ada beberapa mahasiswa yang kubimbing skripsinya memilih mengundurkan diri dan mencari dosen pembimbing lainnya. Tidak pernah menjadi masalah buatku, karena sedari awal sudah kujelaskan apa tuntutan dan harapanku sebagai dosen pembimbing, bila mereka mau ya silakan, bila mereka mengundurkan diri di tengah jalan ya silakan. Yang menjadi kepuasanku bukanlah seberapa bagus nilai mereka ataupun seberapa canggih penelitian mereka, aku puas ketika mahasiswaku berproses dengan diri mereka. Mereka berani menantang diri mereka, mengeluarkan dan menyampaikan pemikiran mereka, mengenali diri mereka, belajar menerima diri mereka dan menjadi kreatif. Itu yang selalu kusampaikan kepada mahasiswaku.



Jenis kelaminku perempuan, artinya aku memiliki 22 pasang kromosom X dan 1 pasang kromosom X sehingga lengkaplah 23 pasang kromosomku berinisial X. Yang kemudian membuat diriku memiliki hormon estrogen dan progesteron dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dibandingkan testoteron. Dengan keberadaan hormon tersebut maka aku memiliki alat kelamin vagina, memiliki payudara, rahim dan yang setiap bulannya akan mengalami siklus 28 hari untuk menstruasi. Perempuan yang artinya dalam masyarakat, tujuan akhirnya adalah menjadi seorang istri dan ibu. Tidak seperti identitas-identitasku di atas, penjelasanku tentang identitas perempuan selesai hingga menjadi seorang istri dan ibu. Bagaimana aku menggambarkan diriku yang perempuan tidaklah sebanyak aku menggambarkan namaku, agamaku, sukuku, pendidikanku maupun pekerjaanku. Jenis kelaminku perempuan, lalu apa? Apa artinya memiliki identitas perempuan? Selain namaku, identitasku yang lainnya tidak berkaitan dengan kelamin perempuanku. Apa sumbangsih keperempuananku terhadap diriku? Apakah aku menjadi lebih perasa, lebih berempati, lebih halus, lebih lemah? Apakah demikian menjadi diri perempuan? Apa yang ingin kucapai dengan keperempuananku?

Dengan usiaku aku tahu bahwa aku ingin mencapai kematangan, menjadi pribadi yang lebih matang. Dengan pendidikan dan pekerjaanku aku tahu bahwa aku ingin mencapai prestasi yang lebih baik, seperti mendapat gelar doktor dan memperluas wawasan pengetahuan. Dengan nama dan sukuku, memang kurasa tidak terlalu banyak yang bisa dicapai, setidaknya untuk tidak menjadi jumawa, seperti membuat namaku terkenal dan diakui banyak orang. Namun, apa yang ingin kucapai dengan kelamin perempuanku? Apakah selama aku belum menjadi istri dan ibu maka aku belum menjadi perempuan? Apakah hanya sampai disitu pencapaian kelamin perempuan? Jenis kelaminku perempuan, lalu apa? Aku adalah perempuan, lalu apa? Apa? Apa? Ternyata aku belum menjadi perempuan, belum banyak identitas perempuan itu menyatu dengan identitas diriku.


Aku Olivia Hadiwirawan yang perempuan. Namaku ya hanya namaku, berbau perempuan tetapi tidak menyatu dengan kelamin perempuanku. Aku perempuan berusia 31 tahun, ingin menjadi pribadi yang semakin matang seiring dengan perjalanan hidupku yang terukur oleh waktu melalui usia, tidak ada urusannya dengan kelamin perempuanku. Aku perempuan Kristen, meski dalam Alkitab diceritakan tentang perempuan bijak, namun sungguh pergumulanku tidaklah pernah tentang kelamin perempuanku, apalagi menjadi perempuan bijak. Aku perempuan Cina, yang hanya kurasakan simpati kepada sesama perempuan Cina korban kerusuhan Mei 98, namun tidak mau kuselami terlalu jauh karena ketakutanku akan identitas perempuan Cina sebagai korban kebiadaban segelintir masyarakat negeri ini. Kuakui identitas ini yang mungkin akan paling susah kudamaikan karena sejarah kelam bangsa ini. Aku psikolog perempuan dan dosen perempuan, keperempuananku tidak memberikan sumbangan terhadap kedua hal ini. Dalam hal ini, aku adalah aku, bukan aku yang perempuan, yang menandakan bahwa sedikit sekali kuijinkan kelamin perempuanku bermain dan mewarnai kedua identitasku ini. Aku adalah seorang perempuan, lalu apa? Jenis kelaminku perempuan, lalu apa? Pernahkah kalian para perempuan memiliki dilema seperti diriku ini? Apa jawaban atas identitas kelamin perempuan kalian? Apa? Apa?



August 31, 2014

Aku menjadi perempuan


Kisah ini dimulai dari mandat Bu Menuk (as usual!) untuk membantu dan mendampingi Bu Sari Andajani dari Auckland University of Technology/AUT (New Zealand) selama beliau melakukan penelitian di Indonesia, terutama ketika sedang berada di UKRIDA. Alhasil, penulis bertemu dengan seseorang (selain Bu Menuk) yang mampu membuat penulis merasa kurang memiliki pengetahuan dan perlu mencari tahu dan membaca kembali, terutama topik-topik mengenai perempuan. Pengalaman mendampingi beliau mengunjungi Kalyanamitra (salah satu LSM yang bergerak sebagai pengiat perempuan) seperti memberikan pencerahan baru bagi penulis. Tanpa sadar, dorongan untuk mencari tahu tersebut membuat penulis langsung membeli buku Evelyn Reed & Friedrich Engels (dua buku yang merupakan landasan berkembangnya aliran feminism) di Kalyanamitra sebelum beranjak pulang.

Beberapa bab dari buku Evelyn Reed (Evolusi Perempuan dari Klan Matriakal menuju Keluarga Patriakal) sempat membuat penulis terkesima, terutama bagaimana ia dengan lincahnya mampu memaparkan analogi singa jantan (yang seringkali menggambarkan bagaimana kegagahan seorang laki-laki dalam kelompok) yang berperan sebagai kepala kelompok singa-singa betina, namun pilihan menjadi kepala kelompok tersebut ternyata ditentukan oleh para singa betina, apakah mereka membolehkan pejantan tersebut memiliki akses terhadap kelompok mereka. Atau bagaimana binatang jantan tidak mendominasi binatang betina, binatang jantan hanya mendominasi binatang jantan lainnya (secara tersirat, penulis menangkap kesan bahwa laki-laki yang menindas perempuan memiliki derajat yang sungguh jauh lebih rendah daripada binatang). Selain itu, dipaparkan pula bagaimana kebudayaan mula-mula merupakan budaya matriakal dimana peran ibu memiliki peran yang sentral. Namun seiring dengan perubahan budaya berburu menjadi budaya bercocok tanam, pergeseran budaya matriakal menjadi patriakal semakin terlihat jelas, terutama dalam urusan warisan dimana para laki-laki ingin mewariskan apa yang dimilikinya kepada anak-anaknya dan bukan dikembalikan kepada klan ibu mereka.

Buku Evelyn Reed mulai membuka mata penulis untuk melihat dunia dari sisi lain, sisi yang selama ini penulis cenderung hindari karena tidak bisa dipungkiri istilah feminis itu seakan-akan berkesan negatif dan penuh pemberontakan. Penulis pernah bertemu dengan beberapa rekan sejawat yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu perempuan, pernah juga berdiskusi dengan mereka namun ketika itu penulis merasa bahwa persoalan tersebut tidaklah terlalu penting dan menarik bagi penulis. Kalau boleh meminjam ungkapan Feminist is just a bunch of girls who always have something to complain about. Buku berikutnya yang benar-benar membuat penulis terhenyak adalah karangan Gadis Arivia (Feminisme: Sebuah Kata Hati). Buku yang kembali mampu membuat penulis enggan menutup buku tersebut hingga selesai membacanya. Tulisan berikut merupakan buah pikiran penulis setelah membaca buku beliau dan beberapa buku lainnya yang membahas tentang isu-isu perempuan.


Penulis berada di zona nyaman, dan tanpa disadari keberadaan di zona nyaman tersebut membuat penulis terlena dan memilih untuk menutup mata terhadap isu-isu perempuan. Penulis bersyukur bahwa proses dalam hidup penulis juga turut mengantarkan penulis untuk semakin menghayati isu-isu yang dimiliki oleh kaum perempuan. Menurut pendapat penulis (ini tafsiran bebas), kaum perempuan yang lahir dan tumbuh besar dalam kondisi yang mapan atau memiliki perekonomian yang cukup akan cenderung tidak peka terhadap isu-isu perempuan, dan bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebenarnya budaya patriaki di sekitar mereka masih melakukan beberapa pelecehan terhadap harkat dan martabat mereka sebagai seorang perempuan. Dengan kondisi dimana penulis mampu mengeyam pendidikan hingga tingkat tertinggi, penulis merasa tidak mengalami apa yang dulu mungkin dialami Kartini, perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Sama seperti yang pernah penulis alami, ternyata masih banyak para perempuan yang berada di zona nyaman mereka, justru yang kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang mampu mengeyam pendidikan tinggi. Oleh sebab itu, penulis merasa perlu membuat tulisan ini untuk membantu para perempuan untuk dapat melihat sejenak ke luar dari zona nyaman mereka.

Feminis dan gerakan mereka dimulai dari dunia Barat, yang seringkali bagi perempuan-perempuan di dunia Timur memiliki pendekatan yang radikal dan nilai-nilai yang jauh berbeda. Perempuan dengan nilai ketimurannya merasa bahwa perempuan Barat menjadi terlalu bebas, mandiri dan bahkan cenderung ke arah ‘liar’. Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa perempuan di dunia Timur mulai menuju ke arah yang sama dengan dunia Barat. Sebut saja Jepang dan Singapura yang terkenal dengan pertumbuhan laju penduduk yang menurun, yang disinyalir karena para perempuan lebih memilih berkarir daripada menikah dan memiliki anak. Di Indonesia sendiri, hal tersebut masih dianggap “melanggar” kodrat seorang perempuan, bahwa kodrat perempuan adalah untuk melahirkan anak merupakan pandangan yang telah lama diturunkan kepada kita kaum perempuan Indonesia semenjak dahulu kala. Tak jarang stigma yang terbentuk adalah kebahagiaan utama perempuan adalah ketika ia menjadi seorang istri dan seorang ibu. Padahal pada budaya manusia awal, ibu lebih merupakan fungsi sosial yang dimiliki oleh semua jenis kelamin perempuan. Dengan demikian, semua perempuan adalah ibu yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan menyediakan kebutuhan para anak-anak.  Namun pada masa sekarang ini, seorang dapat memiliki peran sebagai ibu bila ia telah melahirkan anak. Bila ia belum atau bahkan tidak mampu melahirkan anak, maka ia menjadi perempuan yang tidak sempurna atau utuh. Sungguh ironis, bahwa pada zaman masyarakat primitif yang mana lebih terbelakang dibandingkan zaman sekarang (yang mengagung-agungkan kemajuan peradabannya) justru lebih menunjukkan penghargaan yang lebih tinggi kepada kaum perempuan.

Konstruksi sosial yang mengakar kuat di budaya kita adalah perempuan yang mulia adalah mereka yang memilih menjadi seorang ibu, yang lebih mengutamakan keluarga dan anak-anaknya, yang mampu mengurus dan merawat suami. Hal tersebut sangat terasa pada zaman Orde Baru, dimana terbentuklah Dharma Wanita yang mengokohkan peranan perempuan sebagai istri, ibu dan ibu rumah tangga. Menurut Gadis Arivia, perempuan di Indonesia sangat mengalami penindasan ketika zaman Orde Baru tersebut. Dimana negara yang fungsinya sebagai lembaga eksekutif namun dapat turut campur dalam menentukan kriteria ‘perempuan yang baik’ yang sudah menyalahi ranah fungsinya. Disinilah tanpa disadari betapa kuatnya nilai-nilai patriaki membentuk dan mewarnai budaya kita. Bahasa patriaki selalu berupa dikotomi, baik dan buruk, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai patriaki ditanamkan melalui dikotomi tersebut, laki-laki dan perempuan selalu berbeda dan berlawanan. Nilai tersebut kemudian disisipkan secara halus melalui proses kebudayaan seperti sastra, puisi, film, lagu dan seterusnya. Laki-laki bagaikan matahari yang perkasa dan sumber kehidupan, perempuan bagaikan rembulan yang rapuh dan mengalami perubahan. Bahkan istilah menstruasi pun diasosiasikan dengan datang bulan. Dikotomi tersebut terus menerus dibawa dan dibentuk menjadi budaya patriaki yang cenderung menguntungkan pihak laki-laki dan melecehkan pihak perempuan.

Salah satu bentuk pelecehan bagi kaum perempuan semakin terasa ketika ia sudah mengalami menstruasi. Ketika perempuan mengalami menstruasi pertama, seringkali orang-orang di sekitarnya mengajarkan bahwa menstruasi merupakan salah satu peristiwa yang harus dihadapi dengan sembunyi-sembunyi. Stigma menstruasi yang kotor erat kaitannya dengan darah yang dikeluarkan, bahwa darah tersebut adalah darah kotor sehingga seluruh proses tersebut lekat dengan peristiwa kotor yang tidak sopan untuk digembar-gemborkan atau bahkan dirayakan. Berbeda dengan pihak laki-laki yang mengadakan perayaan sunatan sebagai tanda awal dimulainya masa akil baliq, sunat dipandang sebagai suatu tindakan untuk membersihkan diri. Sunat dianggap sebagai peristiwa yang menyenangkan, karena kehilangannya diiringi dengan mendapatkan sesuatu yang lebih menyenangkan, seperti angpao sunatan. Kembali lagi dikotomi memainkan peranannya, menstruasi sebagai peristiwa yang kotor dan tidak menyenangkan dengan sunat sebagai peristiwa yang bersih dan menyenangkan. Inilah yang sebenarnya yang diperjuangkan kaum feminis. Bukanlah masalah perbedaannya tetapi ketidaksetaraannya.

Bahwasanya laki-laki dan perempuan berbeda memang sudah kodratnya, namun perlu lebih dicermati kodrat perbedaan tersebut terletak pada bagian mana. Kodrat perbedaan yang paling hakiki antara laki-laki dan perempuan adalah pada jenis kelamin. Jenis kelamin yang berbeda akan berhubungan dengan perbedaan secara fisiologis dan biologis, yang kemudian akan sedikit memberikan warna pada psikologis. Perbedaan jumlah kromosom X dan terdapatnya kromosom Y merupakan fakta biologis dasar yang membedakan laki-laki dan perempuan (buku Saparinah Sadli menuliskan sub bahasan yang menarik dan detail bagaimana fakta biologis ini seringkali disalahartikan, dan bagaimana terbentuknya konsep androgini), inilah yang dikenal sebagai istilah perbedaan seks atau jenis kelamin. Sedangkan perbedaan gender adalah perbedaan yang diciptakan oleh konstruksi sosial di masyarakat. Gender sendiri adalah konsep sosial yang dibentuk oleh masyarakat dan membawa karakteristik-karakteristik psikologis tertentu. Istilah feminin dan maskulin merupakan pengembangan dari gender, bahwa feminin menjadi gender dengan jenis kelamin perempuan yang memunyai ciri lemah lembut, sabar, penuh kasih dan sebagainya. Sedangkan maskulin merupakan gender dengan jenis kelamin laki-laki yang memunyai ciri berani, tegas, perkasa dan sebagainya. Di titik inilah mulai muncul perbedaan yang tidak setara atau seimbang antara laki-laki dan perempuan. Mengapa perempuan identik dengan lemah lembut, sedangkan laki-laki identik dengan berani? Mengapa psikologi menjadi ilmu milik kaum perempuan, dan teknik menjadi ilmu milik kaum laki-laki? Pada titik inilah kita sebenarnya bisa mulai untuk mengkritisi pelekatan label-label yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan.

Isu utama dari kaum feminis adalah pada ketidaksetaraannya, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda tetapi setara (meminjam judul buku dari Saparinah Sadli). Dengan demikian, kaum feminis memandang isu-isu perempuan erat kaitannya dengan hak asasi manusia. Hal yang menarik dari kaum feminis adalah mereka juga memperjuangkan hak-hak kaum minoritas sebagai bagian dari misi mereka, mereka memperjuangkan ketidakadilan yang melanggar hak asasi dalam bentuk apapun.


Masyarakat kita cenderung memandang sebelah mata ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan, emansipasi yang diperjuangkan Kartini dahulu kala cenderung menjadi pelecehan bagi kaum perempuan pada masa sekarang. Perjuangan emansipasi perempuan oleh Kartini adalah kesetaraan mencapai pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan. Yang terjadi sekarang, ketika kaum perempuan telah berhak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, istilah emansipasi justru seakan menjadi candaan dan celaan bagi kaum perempuan. Perempuan diharapkan mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh laki-laki, seperti melakukan pekerjaan yang berat misalnya mengangkat karung beras, mampu menjadi tulang punggung keluarga, mampu mencari nafkah, dan sebagainya. Nilai yang tersirat adalah karena meminta mendapatkan perlakuan yang sama maka apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki maka harus juga bisa dilakukan oleh perempuan. Tanpa sadar, pesan yang berusaha dibentuk oleh budaya patriaki adalah emansipasi sebagai bentuk ganjaran atau hukuman atas permintaan kesetaraan dengan jenis kelamin laki-laki (kembali lagi, ini adalah penafsiran bebas penulis). Lebih jauh lagi, seakan terdengar ketakutan dari kaum laki-laki terhadap pergeseran nilai-nilai patriaki di budaya kita. Seakan ketika perempuan mendapatkan kesetaraannya maka mereka akan menjadi dominan hingga dapat mendominasi kaum laki-laki. Bukankah istilah suami takut istri sangat mengambarkan ketakutan tersebut? Masyarakat kita cenderung menyindir para suami-suami yang “tunduk” dengan istri-istri mereka, masyarakat memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak lazim, beranggapan bahwa sang suami adalah laki-laki yang lembek dan seterusnya. Sedangkan istri takut suami merupakan hal yang wajar dan semestinya sehingga tidak berkembang menjadi sindiran bagi kaum perempuan. Sungguh mengherankan bagi penulis bahwa isu utama para kaum laki-laki di belahan dunia manapun, di zaman kapanpun, dalam lingkup apapun selalu terkait dengan dominasi.

Melalui tulisan ini penulis berharap kaum perempuan yang selama ini berada dalam zona nyaman mereka mulai memandang bahwa jenis kelamin yang kita miliki bukanlah suatu kebetulan. Bukan kebetulan kita terlahir sebagai perempuan. Tanpa disadari keterlenaan kita pada situasi dan kondisi menyebabkan kita menjadi kurang peka terhadap isu-isu ketidaksetaraan perempuan. Karena kita telah mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki maka tidak ada lagi perbedaan perlakuan. Masih tinggi angka kematian ibu (AKI) merupakan isu yang terus menerus diangkat karena memang belum nampak penyelesaian yang nyata terhadap masalah tersebut. Sungguh ironis bila nilai-nilai di masyarakat bahwa menjadi ibu adalah hal yang paling mulia hingga mengorbankan nyawa ketika melahirkan dianggap sebagai takdir mulia yang tidak bisa dihindari. Penulis meyakini bahwa sebagian besar perempuan akan rela mengorbankan nyawa mereka demi anak-anaknya, namun bukan berarti kematian ibu menjadi persoalan yang tidak mendesak. Perempuan memilih menjadi seorang ibu bahkan rela hingga harus mempertaruhkan nyawa mereka, tetapi bila meninggal karena tidak mendapatkan akses kesehatan yang layak, maka ini menjadi persoalan mati konyol. Tak jarang AKI disebabkan karena lambatnya prosedur petugas kesehatan dalam menangani proses persalinan, kurang akses bagi para ibu hamil untuk memeriksakan kandungan secara rutin, kurang gizi ketika hamil, bahkan tak jarang memang fisiknya belum matang sepenuhnya untuk dapat mengandung.




Kembali lagi penulis memandang bahwa isu feminis adalah tentang ketidaksetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan, bukan masalah tentang siapa yang akan menjadi lebih dominan. Ketika perempuan menjadi setara dengan laki-laki bukanlah berarti maka perempuan menjadi lebih unggul, lebih dominan dan lebih tinggi derajatnya. Penulis merasa bahwa nilai-nilai patriaki cenderung menanamkan persepsi tersebut sehingga memang pada kenyataannya masih banyak kaum perempuan itu sendiri yang memilih untuk mengabaikan ketidaksetaraan yang mereka rasakan dan cenderung menikmati posisi mereka yang berada di bawah derajat laki-laki. Penulis menghargai setiap keputusan yang diambil oleh kaum perempuan untuk mencapai kesetaraan ataupun ketidaksetaraan dengan kaum laki-laki. Penulis hanya tidak ingin bahwa hak untuk memilih pilihan tersebut dirampas dari kaum perempuan dengan dalil bahwa kodrat perempuan adalah menuruti kaum laki-laki (termasuk ketika dalil tersebut disisipkan secara halus dan tidak kentara ke dalam nilai-nilai di masyarakat, sehingga seakan-akan memang perempuan lahir dengan takdir seperti itu). Penulis sangat menghargai para kaum laki-laki (tak jarang mereka justru berada di sekitar penulis dan membantu penulis untuk peka dan kritis terhadap isu perempuan) yang memiliki pandangan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bagi penulis mereka adalah sosok yang tidak pernah menganggap jenis kelamin sebagai sesuatu yang akan mengintimidasi. Penulis merasakan bahwa penulis semakin menghayati keperempuanan penulis, bahwa menjadi perempuan bukanlah hanya tentang terlahir dan memiliki jenis kelamin perempuan melainkan adalah bagaimana ‘menyadari’ dan ‘menggunakan’ keperempuanannya dalam setiap aspek kehidupan. Memparafrase kutipan Alder, penulis sampai pada kesimpulan bahwa “The life of the woman (human soul) is not a ‘being’ but a ‘becoming’”. Penulis sekarang tidaklah hanya seorang perempuan melainkan juga sedang berproses menjadi perempuan.

Sumber bacaan:
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Reed, Evelyn. 2011. Evolusi Perempuan: Dari Klan Matriakal menuju Keluarga Patriakal. Jakarta: Penerbit Yayasan Kalyanamitra.
Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara: Pemikiran tentang Kajian Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.






May 07, 2014

Lalu mau apa kalau sudah tahu?




Hari ini cukup membuat kepala penulis terasa cenat cenut, namun bukan disebabkan karena produktivitas kerja sebagai seorang dosen. Cenat-cenut kepala penulis dimulai dengan gak penting serta sebenarnya gak penting juga sih untuk ditelaah lebih mendalam, tapi ternyata gak penting itu bisa membuat kepala menjadi cenat cenut. Semuanya bermula di ruang LPPM kampus, sembari menunggu si om membenahi laptop penulis yang lagi trouble. Penulis dan Astin melontarkan joke2 tentang disiplin ilmu si om yang hanya terdiri dari nol (0) dan satu (1). Akhirnya kami banyak berbicara tentang nol dan satu serta kekompleksan logikanya (at least for social science people like me and Astin), hingga muncul pertanyaan dalam diri penulis tentang pengalian dan pembagian dari si nol dan si satu itu.

"Mengapa bilangan jika dikalikan dengan nol menghasilkan nol, namun jika bilangan dikalikan dengan satu menghasilkan bilangan tersebut? Ex: 2x0=0 dan 2x1=2"

"Mengapa nol dibagi dengan bilangan menghasilkan nol, sedangkan bilangan dibagi dengan nol menghasilkan tak terhingga? Ex: 0/2=0 dan 2/0= tak terhingga"

Sebuah pertanyaan yang menggelitik penulis untuk mencari tahu pemahamannya sehingga penulis memutuskan untuk mengangkat telepon dan memencet tombol extention 1152, yang menyambungkan penulis dengan seorang pemikir yang brilian (menurut aq lho dok… gak boleh pake protes yaa :p, terima aja pujiannya). Entah kenapa penulis sangat ingin mendiskusikan tentang hal ini hingga menghampiri sang pemikir brilian bernama Zadok Elia yang justru sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk mengajar setengah jam lagi. Ah… sebelumnya penulis perlu meminta maaf kepada sang pemikir karena sudah menganggu dirinya hari ini (sampai Friska –rekan sekerja Zadok- memberikan komentar, “Wah padahal hari ini wajah Zadok udah tersenyum dan ketawa-tawa, trus Bu Oliph datang langsung membuat wajah Zadok berubah jadi serius lagi”. Maaf yaa.. mungkin udah nasibmu aja dok untuk punya muka selalu serius wkwkwkwkwkwkwk).

Dan ternyata pilihan penulis untuk berdiskusi tentang topik ini dengan sang pemikir sama-sama membuat kami berdua –meminjam istilah sang pemikir- “orgasme”. Walau “orgasme” penulis proses nyampenya telat sekali, baru mencapai ‘aha’nya setelah sampai rumah. Sang pemikir langsung mengutarakan “orgasme” nya ketika penulis menanyakan pertanyaan di atas. Lalu kami pun berdiskusi dengan seru dan karena penulis cukup ADD (Attention Deficit Disorder) maka tak heran topik diskusi yang bermula dari nol dan satu ini merambat hingga emergence of self Jungian, politik, bahkan tentang kebutuhan manusia yang diciptakan oleh Tuhan.

“Orgasme” dalam diri penulis dimulai dengan pembicaraan tentang politik, bukan tentang aplikasi dan penerapannya dari politik melainkan esensi dasar dari ilmu politik. Sang pemikir memberikan pemahaman baru tentang apa yang sebenarnya penulis lakukan juga merupakan bagian dari politik (that’s why I called him brilliant!!). Hal yang cukup membuat penulis tersentil dan kembali melonggok diri. Sang pemikir dengan sabar menjelaskan proses politik yang juga dilakukan oleh penulis hingga pertanyaan “Lalu setelah tahu, mba Oliph mau apa?” yang dilontarkan sang pemikir membuat penulis “orgasme”.

Setelah tahu lalu mau apa? Jawaban spontan penulis ketika itu “ya udah.. jadi ekuilibrium lagi setelah ketidaktahuan menciptakan disekuilibrium”. Namun diskusi tidak bisa dilanjutkan lebih jauh karena sang pemikir harus mengajar. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, penulis dibuat berpikir tentang pertanyaan tersebut. Apa sih yang sebenarnya penulis inginkan dengan mencari tahu? Boleh dibilang penulis ini tipe orang yang tingkat curiositynya (bahasa kerennya) cukup tinggi, yah hampir menjurus ke kepo-kepo gak penting sih (mungkin ini tipe sebenarnya.. hehehehehehe). Penulis menikmati mencari tahu jadi sebenarnya yang mungkin penulis cari adalah proses mencari tahunya, makanya setelah tahu kenikmatan “orgasme” tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan karena hal-hal yang penulis ingin tahu gak penting (gak menjawab kebutuhan sekarang ini kalo menurut Astin) sehingga hasil pengetahuan tersebut juga gak terlalu banyak digunakan. Entah mengapa ketika penulis mengamati diri sendiri akhir-akhir ini, kecenderungan yang terjadi adalah penulis mengajukan pertanyaan mengapa begini dan mengapa begitu. Kalau menurut sang pemikir, penulis sedang dalam proses mempertanyakan hal-hal yang irasional untuk menjadi rasional thus begin the process of emergence of self (sang pemikir ini emang ahli Jungian deh, penulis yang dosen klinis aja gak paham prosesnya bagaimana). Yang penulis tahu semenjak bergelut menjadi dosen selama 4 tahun makin membuat penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung mengarah ke filosofis.

Well, at the end “orgasme” ini diakhiri dengan sedikit pemahaman bahwa penulis menyukai proses mencari tahunya, bila ditanyakan setelah tahu lalu mau apa mungkin jawaban yang mendekati adalah mencari ketidaktahuan lainnya (for now :p). Cheers!




Ps. Nih dok.. akhirnya “orgasme” ini membuahkan tulisan di blog setelah “mandul” sekian lama. Thanks for the discussion today :) 

December 18, 2011

Pull an Ishmael or do an Isaac?


I had the strangest dream last night. It really bothered me a lot today. It’s not about the content of the dream, but more likely the feeling that linger inside of my heart. I literally can feel that my soul is restless. The one thing which imprinted in me was that my soul had been crying, I still remember how I wept in my dream. But the thing is, I felt that The Holy Spirit inside me who was wept more than my soul. Throughout the dream I felt like being guided by The Holy Spirit, it showed me the consequences if I have chosen something.

You see, as one who studied psychology I am aware of unconscious-conscious mind, and I acknowledge that it can manifest into dreams. I even sometimes had those dreams that were my unconscious mind try to come out and make me aware what it is consist of. This time around was different than before. I knew it different because the effect of that dream was beyond any other dreams. It really had full effect on my soul, as far as I can describe it felt like there’s something missing but I can’t point out what or where or how. Sometimes I feel scare after having some dreams, other times was despair, sad, sorrow, etc (I notice dream about unconscious always brought some negative feelings). Unlike those dreams, I didn’t felt any of those when I woke up, but the indescribable feeling still lingers and I still can remember what the dreams about (I also notice that I can remember ‘unconscious’ dream, when mostly I can’t remember others dream).

One may asked, how you knew that it was guided by The Holy Spirit. I might not be the best person to answer that, and maybe my answer was not right after all, but this post was my way to tell you about the experience and the feeling that I had. I just want to share my story about my FatherJ. When I was experiencing the dream, I can differentiate which part was my mind and which one was my soul. Throughout the dream it felt that my mind was the one who ‘narrative’ the story, I noticed the action which my mind told me to do and my soul was just liked sit down and watched. Until it suddenly showed me the consequences of my action, and my mind just liked shut down and it left with my crying soul. One minute I feel fine and happy, and as easy as flipping your hand my soul was weeping. It really showed me that was the wrong thing to do and how my soul really suffered and how much sorry I was for not trusting God. I wished you guys would never felt that way, I didn’t know why but it felt much worse than in reality. I think what makes my soul wept so much is because it turn out that after all I didn’t really put my trust in God, I didn’t rely on God’s faithful character, I didn’t wait in God’s perfect timing, I didn’t ask God in what I’m doing. Put simply I did Ishmael and not Isaac.

When Abraham and Sarah were promised a child by God (Genesis 15:5), they have waited for a long long long time. They waited until their human mind said it is impossible to conceive a child in their old age, so they did what they think its best. They created Ishmael through Sarah’s maiden (Genesis 16:2), after Ishmael was born; they taught that he was good enough for God, for being Abraham’s descendant (Genesis 17:18). But it was not God’s plan, it was not God’s way, for the one who’s going to be called children of God was from Isaac, the promised child (Romans 9:7-9). Why do you think God makes such a fuss about from whom Abraham’s descendant going to be?

If we see it from our human mind, it really didn’t make a difference Ishmael or Isaac as long as there is Abraham’s descendant right? Our simple mind said, ‘well God, maybe we didn’t do it according to Your plan but it turned out okay, it wasn’t the same but it’s adequate. We are fine with this.’ Oh how fool we are! Our Father is beyond capable to give everything to us; more than our eyes can see, more than our ears can hear, more than our mind can imagine, it was already prepared by our Father!(1Corinthians 2:9).

It is not about Ishmael or Isaac; it is not about the end result; it is about God’s character, how faithful our God is in keeping His promises! The thing is, we human are only care about the result, and we are selfish in that way. We didn’t realize that we are here to bring our Father’s glory, we are here to tell to the world about our Father’s characters: faithful, good and loving, powerful, notices every detail of our lives, is in control and will save us. And when we rushed things into our own way and pulled Ishmael, we surely missed an Isaac and along with it God’s unchanging characters! That’s what The Holy Spirit was trying to tell me and why my soul wept.

The end of this year is coming near, and there’re already a lot of changes that are happening and it still going to happen throughout next year. Bit by bit, it starting to consume me, it suffocating me to know that changes are happening all around me. And I’m constantly in battle to put my trust in God, it is not an easy task when there’s uncertainty about your future and you are standing in the shaky ground. But I assume it will never be easy in every condition. It would require hard work from us, from our flesh and human mind. 

Oswald Chambers once said about faith that straight to the point, “We do not earn anything through faith, faith brings us into the right relationship with God and gives Him His opportunity to work. God wants you to understand that it is a life of faith, not a life of emotional enjoyment of His blessings. The real trial of faith is not that we find it difficult to trust God, but that God’s character must be proven as trustworthy in our own minds. Faith, is faith in God coming against everything that contradicts Him, a faith that says, ‘I will remain true to God’s character whatever He may do.’”

And true to His character; to ease out my uncertainty, to bring peace for my restless soul, He brought me to His promises through this passage. So, to my brothers and sisters who’s in uncertainty, in fear and scare about the future, stands in shaky ground, in constantly battle to put faith in our Father, let this passage reminds you about our Father’s characters. Enjoy! J

Isaiah 43 (The Message)

When You're Between a Rock and a Hard Place
 1-4 But now, God's Message, the God who made you in the first place, Jacob,
   the One who got you started, Israel:
"Don't be afraid, I've redeemed you.
   I've called your name. You're mine.

When you're in over your head, I'll be there with you.
   When you're in rough waters, you will not go down.
When you're between a rock and a hard place,
   it won't be a dead end—
Because I am God, your personal God,
   The Holy of Israel, your Savior.
I paid a huge price for you:
   all of Egypt, with rich Cush and Seba thrown in!
That's how much you mean to me!
   That's how much I love you!
I'd sell off the whole world to get you back,
   trade the creation just for you.
 5-7"So don't be afraid: I'm with you.
   I'll round up all your scattered children,
   pull them in from east and west.
I'll send orders north and south:
   'Send them back.
Return my sons from distant lands,

   my daughters from faraway places.
I want them back, every last one who bears my name,
   every man, woman, and child
Whom I created for my glory,
   yes, personally formed and made each one.
'"